AriReda, Gubahan dan Perubahan

20190217_163139

Ngedengerin AriReda adalah cara yang sangat indah buat mengagumi puisi. Ya, menurut gw AriReda adalah orkestrator dimensi auditif dari sepenggal sajak yang sunyi dan membuat puisi jadi hingar bingar. Ada banyak banget orang yang akhirnya mengenal dan mengagumi puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono, Goenawan Muhammad, Mozasa, dan Toto Sudarto Bachtiar setelah menikmati musik mereka, termasuk ya saya ini yang suka puisi tapi awam sama penyair. Buat gue, kekuatan dari sebuah puisi adalah metafora dan diksinya, tapi ternyata ada kekuatan tersembunyi dari sebuah puisi yang amat sangat berhasil dieksploitasi sama duo legendaris ini buat mengantarkan makna puisi yang rumit langsung ke pintu pikiran kita, yaitu bentuk bunyi dari puisi. Dengan gubahan instrumen yang sederhana tapi dinamis dan tepat sasaran, bentuk bunyi puisi berupa penekanan makna, jeda, intonasi, dll berhasil bikin puisi gak lagi dua dimensi.

20190217_163053

Arireda adalah Ari yang memetik gitar sambil bernyanyi dan Reda yang memimpin vokal. Gw sebenernya ngerasa malu baru ngedengerin mereka akhir-akhir ini setelah mereka mulai banyak panggung. Mereka berdua udah menjadi AriReda yang membawa musikalisasi puisi sejak 80an. Ternyata kesan pertama gw pas pertama kali gw denger musik mereka gak salah. Saat itu gw langsung berasa ngedengerin format akustik dari folk atau ballad indonesia di era emasnya yang diakrabi dengan Franky Sahilatua. bunyi gitar dengan bunyi bass yang vintage, petikan senar yang naratif dan dinamis, ditambah cara bernyanyi yang sengau memang mengesankan musik indah mereka bukan berasal dari jaman sekarang. Buat yang akrab dengan folk amerika yang penuh pesan kayak John Denver atau musik balada yang cantik kayak Simon and Garfunkel pasti gak asing dengan cara Arireda membuat musikalisasi puisi.

Tapi kini AriReda hanya menyisakan Reda. Mas Ari Malibu sudah lebih dahulu dipanggil Sang Penyayang saat gema takbir Idul Fitri berkumandang. Pada hari suci umat muslim itulah duo yang dipertemukan takdir dipisahkan pula oleh takdir. Seolah tugas mulia sudah tunai dan pulang adalah niscaya, laksana rima menemui titik.

Terima kasih AriReda telah membagi pengalaman sastra dengan cara yang mengagumkan. Karya dan kerja keras kalian akan tetap melekat di dinding pikiran kami. Ia telah secara sederhana melekat pada perasaan kami, dan akan bersemayam selamanya. Apapun bentuknya nanti, karya musikalisasi puisi ini akan tetap kami nanti. Terima Kasih AriReda.

[Gigs] Urban Gigs Unrelease Project, Mocca x Payung Teduh : Kolaborasi Manis nan Lirih Memukau

Panggung musik gratis besutan rokok Kutang Karam (pokoknya salah satu merek rokok lah ya) bertajuk Urban Gigs kembali menyambangi Bandung. Gigs yang terkenal selalu nyuguhin sensasi nikmatin musik yang menyenangkan kali ini datang dengan konsep yang agak beda. Mereka datang dengan tajuk  Urban Gigs x Unreleased Project. Proyek musik yang seru karena skenarionya adalah gabungin 2 band indie nasional yang genrenya beda, ada yang beda banget, ada yang beda aja, dalam satu panggung bareng. Sebenernya gak bareng terus-terusan sih, cuma ada beberapa lagu dari masing-masing band yang dibawain bareng. Sebenernya konsep ini sering sering banget mereka bawain di gigs-gigs sebelumnya. Cuma yang bikin beda adalah spotlightnya. Biasanya mereka bawa 3 band, 2 jadi sajian pembuka, dan 1 hidangan utama, dan salah satu band pembuka biasanya kolaborasi di akhir sama sang hidangan utama bawain lagu mereka. Kali ini band pembuka cuma ada 1, dan 2 main star berbagi panggung dan space promosi di spanduk. Mungkin konsep ini muncul karena makin sini, Urban Gigs makin bingung nentuin suguhan utama dari 3 band yang tampil, karena makin kemari makin banyak aja band bagus dengan massa yang besar ikut ambil bagian. Masalahnya terbesarnya adalah di media promosi cetak, penentuan band mana yang berhak makan tempat lebih banyak di spanduk.

Ada 12 grup musik yang akan tergabung dalam ajang ini, yaitu; Elephant Kind X Rock N Roll Mafia, Barasuara X Scaller, Kelompok Penerbang Roket X Kimokal, The Brandals X Agrikulture, Silampukau X The Hydrant dan Mocca X Payung Teduh. Edan,Line up yang cukup bikin kuping ngiler. Khusus buat Barasuara X Scaller, ini bukan hal baru buat mereka, karena mereka cukup sering sepanggung. Masing-masing pasangan bakal tour ke kota-kota besar di Indonesia.

Di Bandung, yang dapet kesempatan nongol duluan adalah Mocca X Payung Teduh, kolaborasi manis nan menyayat antara swing yang megah ala Mocca dengan alunan sendu dari Payung Teduh. Hasilnya, memukau.

Gigs dimulai dengan 2 band hasil audisi, Curly and Me dan Trou, gua gak bahas itu karena gua gak nonton lengkap. Abis itu naik lah band kontemporer bernama Parahyena, disinilah “kekacauan” dimulai, ntar gua ceritain. Sejak awal semua penonton yang saat itu penuh bukan maen, kompak udah siap dalam posisi duduk melantai, karena bagi gua memang posisi yang paling pas buat nikmatin musik Mocca apalagi ada Payung Teduh adalah dengan seperti itu. Karena band ini bukan band crowd maker yang memang cocok dinikmati sambil bergerak. Apalagi urban gigs terkenal dengan suasana nikmatin musik yang santai karena selalu nyediain bentangan rumput sintetis lengkap dengan bantal besar yang enjoyable banget, paduan sempurna lah buat nikmatin musik macam itu. Ditambah saat itu hujan rintik mulai berani turun, mungkin pawangnya lagi lengah. Formula yang harusnya mantap banget lah.

DSC_0027

Di awal-awal, Parahyena belum banyak mancing crowd untuk bergerak, di lagu kedua apa ketiga, gua lupa, mereka baru mulai berulah, penonton diajak untuk berdiri dan joget, dan entah kenapa semua kompak nurut. Musik mereka memang kental nuansa musik sunda kontemporer dengan tambahan instrumen kendang sebagai ritmik, tapi menurut gua musik mereka gak terlalu jogetable. Dan penonton yang terlanjur berdiri pun pada diem aja, gak joget-joget amat. Ah buyar sudah komposisi  mantap buat dengerin band favorit gua yang bakal maen setelah mereka, karena gak mungkin orang sebanyak ini disuruh duduk lagi. Tapi okelah gua lumayan terhibur sama komposisi musiknya, tapi sebagai penikmat lirik gua rada kecewa dengan gubahan lirik mereka yang diksinya agak asal.

DSC_0043.JPG

Oke, saatnya sajian utama yang paling ditunggu sama ribuan pasang telinga yang hadir di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat saat itu, Mocca X Payung Teduh. Crowd makin berisik waktu masing-masing personil naik pentas. Paling berisik waktu Teh Arina dan Mas Is naik, skenario klasik panggung musik manapun, vokalis keluar belakangan. Tapi saat itu Teh Arina yang paling mencuri perhatian. Selain dia perempuan sendiri dipanggung, persona yang ceria dan ramah ditambah poni yang bikin salah fokus semakin bikin beliau luar biasa menarik. Setiap tangan yang melambai ke doi selalu dibales dengan lambaian dan senyum manis, attitude yang harusnya dimiliki sama semua vokalis cewek dengan genre serupa. Mau berapa puluh orang yang melambai ke dia, selalu disambut lambaian ceria tanpa terganggu fokusnya, Class!

DSC_0092

DSC_0060

DSC_0177

Sajian utama kolaborasi ini dibuka dengan I Love You Anyway nya Mocca. Payung Teduh cuma jadi pengiring aja di bagian ini, gak ada suara Mas Is disitu. Belum ada kejutan yang mencuri perhatian di bagian ini, Mocca tetap bermain seperti biasa, flawless as always. Setelah itu giliran Mocca sendiri yang pegang kendali pentas, Payung Teduh turun dulu. Mocca bermain aman dengan bawain lagu-lagu generik mereka macam Me and My Boyfriend, I Remember, I Think I’m In Love, Secret Admirer, I Would Never, dll. Rata-rata lagu di album Friends. Ada sedikit harapan gua mereka bisa bawain lagu-lagu “liar” hasil eksperimentasi terbaik mereka yang jarang dimainkan macam Dream, When the Moonlight Shines, How Wonderful Life Would be, atau Sunday Afternoon. Tapi gak apa-apa, mereka seperti gua bilang tadi, flawless as always, dan teteh Arina yang katanya lagi serak tetep luar biasa bersama poninya.

DSC_0109

DSC_0073

DSC_0087

Giliran Payung Teduh ambil alih. Dibuka dengan lagu Menuju Senja yang sukses bikin penonton jadi barisan paduan suara. Penonton dengan  sukarela menarik suara sekencang-kencangnya di bagian “Harum mewangi di tamaaaaannn, menusuk hingga ke dalaaaaaam sukma, yang menjadi tumpuan rinduuuuu, cintaaaaaa bersamaaaaaaa, di sore itu menuju senja” diiringi nuansa semi keroncong jazz. Kur semakin menggila waktu bagian pararara dari lagu Resah dikumandangkan. Ah kalo aja posisi gua masih duduk melantai sekarang, pasti mantaf. “Aku ingin berjalan bersamamu, dalam hujan dan malam gelaaaap” dengan sentuhan akustik yang tipis berhasil maksa penonton buat menggantikan mas Is sebagai vokalis yang jadinya cuma turururu turururu doang. Ya mereka kemudian bawain hits-hits mereka seperti Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan, Angin Pujaan Hujan, Berdua Saja, Rahasia, dll.  Yang paling mengejutkan adalah di lagu Cerita Tentang Gunung dan Laut yang secara ajaib diaransemen jadi epik nan dramatis ala backsound  Star Trek atau sejenisnya. Versi rilisan fisik dari lagu ini dan lagu-lagu lainnya yang juga secara ajaib di aransemen ulang bisa di cek di album mereka yang judulnya Live and Loud.

DSC_0123

DSC_0137

DSC_0131

Setelah itu, baru sesi kolaborasi dimulai lagi. Lagu pertama yang dibawain adalah lagu Lucky Man nya Mocca dengan vocal mas Is. Baru pertama kali gua denger lagu ini versi suara berat berjakun, biasanya kan diisi sama suara periangnya teh Arina. Dan hasilnya mengagumkan, ada sisi yang menjadi lengkap dari lagu itu. Apalagi liriknya diganti, dari “some people say you’re the lucky man” jadi  “ some people say I’m the lucky man”, makin nambah aspek ke-aku-an seorang lelaki bersuara berat tadi. Jadi ke-rendah hati-an lagu ini seketika berubah angkuh, menarik. Di lagu ini Mocca Cuma ngiringin sambil jadi suara latar aja . yang menarik, ada sesi battle bass yang saling gak mau kalah dari bassis masing-masing band.

DSC_0159

DSC_0170

Kolaborasi terus berlanjut sampai giliran Mocca bawain lagu Payung Teduh. Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan jadi pilihan Mocca. Kali ini gantian teh Arina yang mewarnai lagu itu dengan sentuhan perempuan tapi tetap Mocca diiringi sama Payung Teduh juga. Dan bagi gua, itu cover lagu Payung Teduh yang terbaik yang pernah dibawakan. Suasananya jadi makin “sedikit cemas banyak rindunya” gitu. Manis tapi tetap lirih luar biasa.

DSC_0199

DSC_0198

DSC_0181DSC_0202

DSC_0178

Secara umum sih yang menonjol dari kolaborasi ini adalah warna vokal dari setiap lagu yang jadi berubah karena dinyanyiin orang lain. Gak ada perubahan musikal yang terlalu drastis dilakukan. Tapi tetap jadi pertunjukkan musik yang istimewa dari salah dua band indie nasional terbaik, apalagi kalau bisa dinikmatin sambil duduk seperti sediakala. Oh iya, hasil kolaborasi dari semua band yang terlibat di Unreleased Project ini bakal bisa dinikmatin versi rilisan fisiknya dalam bentuk CD pada pertengahan tahun nanti.

DSC_0084

Photos by Firman Kurniawan ( IG kurniawanfirman)

[Review] Dramaturgi Underground, Kulminasi Sang Morfem

C360_2016-12-13-14-23-37-211 Morfem, nama yang dua tahun ini melekat kuat di pikiran gue. Gua udah lupa gimana pertama kali gua denger band ugal-ugalan ini dan lagu apa yang pertama kali gua denger, tapi nama mereka sering nempel di gigs-gigs musik yang aneh-aneh. Gigs yang biasa nulis nama band pake font yang kayak iler alien, berlendir dan gemuk, mungkin mau nandingin parade font akar ala death metal. Singkat cerita masuklah gubahan berisik mereka ke kuping gua. Sebagai pencinta lirik, perhatian gue langsung tertuju ke liriknya. Diksi nya aneh, jarang dipake manusia Indonesia pada umumnya, tapi terasa kongruen sama musik dan kontennya. Begitu gua tau vokalisnya adalah Bung Jimi Multhazam, gua langsung memaklumi ke-liar-an lirik band ini. Seketika tingkat kekerenan doi makin melambung di mata gua yang udah suka ama karya beliau di The Upstairs. Lirik Jimi memang khas, berasa baca cerpen yang unsur intrinsiknya lengkap. Apalagi pas gua denger lagu Rayakan Pemenang hasil tersesat di kolom kanan youtube. Musiknya ala-ala chants suporter bola, tapi kontennya kental banget unsur persahabatan ala anak tongkrongan, ah keren gak ketulungan. Dari situ gua mulai explore musik mereka lebih lanjut, musik yang mereka sendiri gak bisa nentuin genrenya. Entah mungkin gua kena santet atau apa, tapi lama-lama gua tergila-gila banget sama musik mereka. Raungan fuzz gitarnya Pandu Fuzzthoni, lonjakan tempo bass liar om Yusak Anugrah, dan gebukan drum ugal-ugalan Freddie Warnerin rasanya senyawa banget ama karakter sang frontman. Gua jadi inget sama tulisannya Bung Jimi tentang  musiknya The Dehumanizer dan Lou Reed, rasanya ini kombinasi dari influence doi dengan suntikan tempo yang lebih galak. Walhasil musik mereka berhasil memaksa gua untuk beli CD mereka yang “Hey, Makan tuh Gitar !”, sebuah judul yang cukup provokatif untuk jadi nama album, dan itu adalah CD pertama yang gua beli seumur hidup gua, karena gua baru bisa kebeli laptop yang ada CD playernya.

Di album ini, Morfem menyajikan 5 lagu baru (itupun kalau lagu Metode Organik Rasakan Fase Embrionik Manusia mau disebut lagu), 1 lagu cover band indie-pop legend Indonesia, Rumahsakit, dan 2 lagu lama yang belum pernah masuk di full album mereka tapi rajin mereka bawain di gigs. Yang seru di album ini, mereka menyertakan artwork dari illustrator-ilustrator (kalo kata Jimi, Seni Rupawan, seni yang ganteng)  handal semacam Aprilia “Sari” Apsari WSATCC, Ricky Malau, dan Marishka Sukarna, untuk setiap lagu mereka sesuai interpretasi masing-masing. Proyek artwork untuk album ini udah mereka mulai sejak Maret 2015 di blog mereka, dengan nunjuk 5 orang untuk menggarap ilustrasinya dan sisanya dikonteskan. Mereka emang niat banget mau nyuguhin karya dengan sensasi audiotekstual tingkat tinggi, dimana lu bisa dengerin dinamika musik mereka, sambil baca lirik dan sekali-kali nengok ilustrasi lagu nya. Hasilnya, Cuma dari sleevenya doang lu udah bisa membayangkan cerita dari lagunya, edan. Di album ini morfem bener-bener pengen nunjukkin dan warna musik mereka yang sebenernya, bising dan enerjik. Kalo di full album terakhir mereka masih ada penawar bising dari lagu “Bocah Cadel Lampu Merah” dan “Cerdas dan Taktis”, di album ini mereka gak ada ampun. Fuzz dan simbal intensitas tinggi di semua track. Masalah kualitas, rasanya album ini jadi titik kulminasi perjalanan bermusik mereka, gak heran harganya CD nya cukup melonjak dibanding album-album sebelumnya tapi sepadan sama kualitas yang mereka suguhin.

Lagu yang baru pertama kali gua dengerin di album ini dan langsung memancing umpatan keluar dari mulut gua saking kerennya adalah Roman Underground, lagu yang mungkin jadi inspirasi judul album ini. Lagu yang bisa jadi anthem buat indie couple. Tentang suka duka menjadi gigs geek musik underground bagi sepasang muda mudi. Track ini dibuka secara apik dengan suara simbal yang intens, bass yang tebel dan fuzz gitar yang chordnya geser-geser. Pas bagian vokal Jimi masuk, gua merasa ada nuansa Bandempo disitu, kayak Anggun Priambodo yang udah tumbuh jakun. “stage diving, sing along, denganmu, tiap lagu” part yang langsung nempel di otak gua. Jargon-jargon yang khas anak gigs banget. Part tengah lagu jadi porsinya Pandu buat unjuk kebolehan. Perubahan efek gitar ngasih doi ruang buat meliuk-liuk. Satu kata buat lagu ini, Jenius .

Nomor lain yang paling gua suka itu Jungkir Balik. Bass line nya nempel banget di otak gue. Lagu ini sebenernya lagu lama mereka yang sering mereka bawain di gigs mereka cuma emang belum dapet tempat di rilisan fisik full mereka. Disini Jimi lagi-lagi nunjukkin kalo dia adalah salah satu lirikus terbaik di Indonesia. Denger lagu ini berasa denger lagu Iwan Fals yang Ujung Aspal Pondok Gede, tema personal tentang keluarga dan tempat tinggal, tapi dengan unsur rebel yang kentel ditambah metafora yang menggelitik kayak, “Tak sampai melarat, jauh dari konglomerat, serba pas ala jeans sekarang” atau, “mimpiku tinggi menjulang, tinggalkan kavling ke awan”. Part yang paling gua suka itu bagian reff nya, di bagian ini Jimi dengan cerdas dan efisien menghindari perulangan kata, “aku jungkir balik, kepala dikaki di kepala”. Biasanya kan kaki di kepala kepala di kaki. Dari segi musik, lagu ini emang lagu gigs banget. Bener-bener pemantik stage diving nomor wahid. Rudiment drum tempo tinggi di awal lagu plus bass line yang tebel jadi kekuatan lagu ini biasanya sukses ngegerakin crowd secara instan. Ditambah bunyi gitar yang nembak-nembak. Rasanya kalo nonton mereka live gak mungkin diem aja denger lagu ini.

Di album ini Morfem bener-bener nunjukin kapasitas mereka sebagai seniman. Cuma yang buat gua agak kurang sreg sama album ini itu di kemasannya. Album ini pake box plastik, beda kayak full album mereka sebelum-sebelumnya yang pake box karton. Di satu sisi emang jadi lebih safe dan kuat aja pake box plastik, tapi unsur sentuhan tangannya jadi terasa kurang. Sisi artistik album yang mateng jadi berasa agak hambar dan biasa aja. Tapi Morfem tetap lah Morfem yang meledak-ledak tapi tetap seksi dan berisi.

dengar sana dengar sini